Software Industri Outlook 2012, Saatnya Kreativitas Software Lokal Menangkap Peluang Industri Kreatif TI

Jakarta, 17 Januari 2012 – Sejak dicanangkannya tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif, pemerintah turut menggalakkan upaya menumbuhkan industri kreatif ini melalui berbagai kegiatan seperti seminar, pengumpulan pendapat, hingga pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada reshuffle kabinet yang baru lalu. Pilihan pemerintah mengembangkan industri kreatif untuk menopang perekonomian Indonesia sangat tepat mengingat, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat berlimpah dengan jumlah penduduknya yang mencapai 237 juta di tahun 2011 lalu.

Salah satu bidang di industri kreatif adalah inovasi software. Menurut data dari Business Monitor International (BMI) pengeluaran biaya TI di Indonesia pada tahun 2015 akan mencapai US$ 10.2 Billion, dengan pertumbuhan per tahunnya mencapai 18% (CAGR) hingga empat tahun ke depan. Hal tersebut merupakan salah satu bukti bahwa pasar TI di Indonesia tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan ini sangat besar sekali dan dapat dijadikan peluang untuk mengambil sebagian besar pangsa software tersebut.

Pasar yang besar ini banyak didominasi oleh software buatan luar negeri, dan nilainya cukup besar. Sedangkan software lokal nilainya relatif masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan software dari luar. Jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 237 juta jiwa, merupakan pasar yang besar untuk produk konsumen TI.

Bila Pasar TI di Indonesia cukup besar, dan sumber daya manusianya cukup banyak, pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia dapat mengembangkan Industri TI agar dapat menciptakan perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti yang terjadi di India, Amerika, dan China? Bagaimana strategi pengembangan industri TI untuk mendukung perekonomian Kreatif di Indonesia?

Pasar Konsumen

Kecenderungan industri TI yang awalnya menggarap pasar korporasi, sekarang berlomba-lomba untuk mengambil pasar konsumen. Contoh para ‘pengambil hati’ pasar konsumen ini dimulai dari Apple Computer yang berhasil meraih pasar konsumen dengan produknya mulai dari Ipod, Iphone, dan yang terakhir Ipad.

Apa yang dilakukan Apple bahkan menginsiprasi perusahaan lainnya untuk membuat turunannya seperti Samsung Galaxi Tab, hingga ke beberapa gadget tablet (layar sentuh) lainnya. Hadirnya perangkat-perangkat tersebut mau tidak mau membuat industri software juga mengimbanginya dengan membuat berbagai macam aplikasi, mulai dari game hingga aplikasi-aplikasi lainnya yang bisa mendukung fungsional perangkat tab sentuh dimaksud. Peluang industri kreatif di bidang IT pun tercipta.

Beberapa kompetisi digelar untuk menciptakan software yang mampu menciptakan aplikasi-aplikasi baru pada perangkat-perangkat baru yang menjadi tren itu. Tak lain tujuannya adalah untuk memicu kreativitas kita dalam menciptakan aplikasi yang dapat dinikmati pada perangkat personal. Setelah aplikasi tercipta, langkah berikutnya adalah memikirkan model bisnis kreatif yang mampu meraup pengguna sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar.

Model Bisnis

Saat ini belum ada data yang akurat menyangkut jumlah perusahaan di Industri Software Indonesia. Menurut perkiraan jumlahnya bisa lebih dari 200 perusahaan baik kecil maupun besar, dan yang lebih besar lagi jumlahnya adalah Sistem Integrator, yaitu mereka yang menjual jasa untuk melakukan implementasi software biasanya software dari luar.

Industri software di Indonesia, bisa dikerjakan mulai dari dua orang hingga ratusan orang. Sedangkan bila dilihat dari hasil produknya maka dapat dibedakan menjadi tiga macam:

  1. Custom Software

Membuat software untuk pelanggan tertentu, dan setiap ada pesanan harus dibuat dari awal.

  1. Semi Custom

Pihak pembuat sudah mempunyai software template seperti software untuk accounting, bila ada perusahaan membutuhkan software accounting, maka software tersebut disesuaikan untuk perusahaan pembeli.

  1. Product Software

Pembuat software membuat satu macam software kemudian dijual ke banyak pelanggan, dapat berupa aplikasi desktop atau web.

Model Bisnis dan Risikonya

Sejak berdiri di tahun 1988, Andal Software telah berganti beberapa kali bisnis modelnya. Kami mengubah bisnis model beberapa kali, karena kami mempunyai visi untuk membesarkan Andal Software menjadi perusahaan industri yang besar seperti perusahaan perusahaan industri lainnya. Hal ini mungkin dicapai, hanya bila Andal Software mempunyai produk, sehingga kami putuskan untuk masuk ke produk. Dengan membuat produk, diharapkan penjualan software dapat dilakukan tanpa tergantung pada programmer untuk membuat softwarenya terlebih dahulu pada saat melakukan penjualan. Bagian penjualan dapat terus menjual softwarenya bila produk software-nya sudah jadi.

Risiko membuat produk jauh lebih besar dibandingkan dengan custom software, namun saat software dapat diterima di pasar, keuntungannya juga jauh lebih besar dibandingkan dengan custom software.

Pertimbangan memilih bisnis model custom software merupakan pilihan terbaik bagi mereka yang memiliki modal terbatas, dengan memilih model bisnis ini, relatif tidak perlu mempunyai modal besar dan risiko kerugian relatif kecil.

Karena custom software selalu sudah ada yang memesan, hal tersebut bukan berarti tidak ada risiko. Risiko yang sering dihadapi oleh custom software adalah kebutuhan user tidak tertangkap dengan baik sehingga, pada saat software diserahkan kepada kostumer, masih harus ada perbaikan dan penyesuaian.

Bagaimana dengan produk software? Seorang pemula yang belum mempunyai banyak pengalaman akan sangat sulit untuk membuat produk. Kalau memang sulit membuat produk, pertanyaan berikutnya “Mengapa ada orang seperti Mark Zuckerberg yang membuat facebook begitu boom terus menjadi kaya ?”

Riwayat bagaimana Zuckerberg bisa sampai membuat facebook tentunya sangat menarik. Facebook tidak dibuat dalam satu hari yakni ada ide kemudian langsung dibuat dan jadi. Demikian juga para pembuat Angry Bird, Skype, dan Twitter.

Dalam pengembangan software, produk menjadi sangat penting. Kita lihat pengalaman MP3 player pada saat awal banyak sekali yang membuat MP3 player, tetapi setelah IPod keluar yang lainnya tidak kedengaran lagi. Karena kita tahu produk IPod mempunyai kualitas yang sangat baik. Banyak juga yang membuat tablet PC beberapa tahun yang lalu, merk terkenal seperti Toshiba, Acer juga membuat tablet PC, tetapi setelah IPad keluar, IPad menguasai pasar tablet. Kembali lagi kualitas produk dan desain produk sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar.

Kita bisa melihat, pertumbuhan industri TI di dunia telah menghasilkan billioner-billioner baru yang relatif masih berusia sangat muda seperti Mark Zuckerberg itu. Sampai sekarang, tim Zuckerberg terus berbenah, berkreasi dan mengubah model bisnisnya. Ini bisa dilihat, dari yang tadinya facebook tidak ada iklannya, hingga akhirnya ada iklan dan bisa sharing link dan menautkan banyak link (metasocial).

Sumber Daya Manusia

Banyak perusahaan TI merasa kesulitan untuk mencari programmer padahal lulusan TI dari berbagai universitas di Indonesia diperkirakan ada sekitar 10.000 mahasiswa TI per tahunnya. Mengapa masih sulit untuk mencari tenaga TI yang berkualitas ?

Ada beberapa faktor penyebabnya, yakni:

  1. Banyak dari mereka memilih untuk membuka usaha sendiri, baik yang berkaitan dengan TI maupun tidak ada hubungannya sama sekali dengan TI.
  2. Kebanyakan dari mahasiswa yang memilih jurusan TI membayangkan enaknya kerja di TI dengan penghasilan yang tinggi. Namun setelah bekerja mereka mendapatkan imbalan yang standard dan sering lembur karena harus melakukan kustomisasi pada software pesanan.
  3. Para lulusan TI banyak yang tidak memenuhi kualifikasi kebutuhan di perusahaan TI yang menuntut kualifikasi yang lebih tinggi.

Beberapa tahun belakangan inipun gelombang akuisisipun banyak dilakukan oleh pihak luar terhadap beberapa start-up di Indonesia. Hal ini  karena banyaknya para mahasiswa lulusan universitas TI langsung terjun di bidang usaha TI dengan membuat beragam aplikasi inovatif. Kelihatanya akuisisi perusahaan TI lokal oleh perusahaan luar negeripun menjadi harapan bagi pengembang lokal pemula. Terlebih-lebih karena tingkat penghasilan sebagai seorang professional TI di Indonesia kini tidak lagi memberikan inspirasi bagi para mahasiswa untuk terjun sebagai professional TI.  Faktor penentuan model bisnis yang tidak berkelanjutan dari perusahaan dotcom  di era awal internet tahun 1990-an lalupun turut menyumbangkan turunnya tingkat penghasilan seorang professional TI, karena begitu banyaknya supply mahasiswa di industri ini. Namun jika perusahaan TI mau mengevaluasi dengan memberikan kompensasi yang jauh lebih baik dengan membuat suatu produk yang nilai tambahnya cukup tinggi, maka perusahaan tersebut mendapatkan profesional TI yang bagus. Hal ini akan membantu pertumbuhan perusahaan tersebut di masa mendatang.

Mengembangkan Industri TI di Indonesia

Ada 3 hal yang perlu kita pertimbangkan ketika memasuki industri software yaitu Produk, Target Market, dan Model Bisnis.

Pada saat Andal Software menentukan fokus pengembangan, kami menentukan kriteria pasar terlebih dahulu. Baru setelah itu mengembangkan produk dan selanjutnya menentukan model bisnisnya.

Perkembangan start-up lokal di Indonesia cukup membanggakan, karena banyaknya produk yang inovatif dan barbasis web. Para start-up lokal harus melihat seberapa besar potensi  adopsi pasar disamping fokus pengembangan produk. Model Bisnis juga berperan sangat penting dalam memasuki sebuah pasar seperti yang dilakukan oleh Android yang menggantikan model bisnis yang sudah lama dimiliki oleh Microsoft. Mengubah kebiasaan dipasar bukanlah hal yang mudah. Namun ketika perubahan itu membawa kemudahan maka dapat dipastikan model bisnis lama akan segera ditinggalkan oleh konsumen yang sudah mendapatkan kenyamanan dengan model bisnis baru yang ditawarkan. Hal ini dikenal dengan istilah disruptive marketing.

Dengan meningkatnya kebutuhan di industri TI konsumer, para pebisnis Indonesia harus lebih sigap mengambil langkah kreatif untuk menciptakan produk software lokal, mampu mengambil sebagian besar pangsa pasar nasional, dan selalu konsisten mengembangkan model bisnis untuk memperbaharui tren-tren terbaru di masyarakat.