China Punya 1.000 ‘Arsitek Ponsel’, Indonesia Baru Satu

TSM

Indonesia dan China sejatinya punya kesamaan dalam hal mendorong industri ponsel lokal berjaya di dalam dan luar negeri. Setidaknya, di Tanah Air ada 4 dari 5 value chain yang dibutuhkan seperti di Negeri Tirai Bambu.

Seperti dikatakan oleh Advisory Board Microelectronics Center ITB, Adi
Indrayanto, lima value chain yang dibutuhkan untuk industri ponsel lokal adalah distributor, brand owner, independent desain house, manufaktur dan chipset vendor.

“Distributor ini ujung tombak dalam menjual ponsel dan memasukan ponsel ke pasar. Di Indonesia sudah banyak. Brand owner, ya seperti Mito atau Polytron. Mereka yang membiayai sendiri marketingnya, mencari desain dan sebagainya,” kata Adi, di Grand Indonesia, Kamis (4/12/2014).

Manufaktur pun sudah banyak di Tanah Air. Bahkan kata dosen ITB ini, sudah sejak 30 tahun digagas oleh Rachmat Gobel. Namun sayangnya, tak semua dimanfaatkan maksimal.

“Tidak hanya itu, kenapa kita tidak bisa seperti China (industri ponsel lokal).
Karena ada dua kebocoran yang kita tidak punya, independent desain house dan chipset vendor”.

“Soal chipset vendor bolehlah kita abaikan. Karena terkait inovasi dan biayanya. Bolehlah kita pakai saja seperti Qualcomm,” sebutnya.

Nah, soal independent desain house inilah baru dimiliki Indonesia, yang datang melalui TSM Technologies yang digagas PT Tata Sarana Mandiri.

Adi mengibaratkan TSM Technologies ini seperti arsitek yang membangun desain dan kemudian hasilnya diberikan kepada Teknik Sipil untuk diperbanyak.

“Di China, mereka punya 1.000 lebih ‘arsitek ponsel’ seperti ini. Tapi kita, ya
baru TSM Technologies ini. Ke depannya kita berharap akan ada independent desain house lainnya. Ini demi mewujudkan kompetisi yang sehat,” tandas Adi.***

sumber:detik.com