Bagaimana AMD Carrizo Bersaing dengan Mesin Pemasaran Intel?

i0pADcM2gD Ron Myers.

Melawan persepsi lebih susah daripada kenyataan. Demikian kata Ron Myers, Corporate Vice President of Corporate Marketing di AMD.

Dia merujuk pada persepsi banyak orang, termasuk di Indonesia, bahwa notebook yang menggunakan prosesor AMD mudah panas atau bahwa Intel selalu lebih bagus dari AMD. “Padahal itu sudah lama sekali. Kami sudah banyak berubah,” katanya.

Di sela-sela peluncuran Accelerated Processing Unit Carrizo di Taipei, yang berbarengan dengan pameran Computex 2015, kami sempat wawancara dengan Ron di W Hotel. Dia ditemani rekannya Adam Kozak. Di tempat yang sama, kami juga mewawancari Jason Banta, Director of Product Management for Client Solutions di AMD.

Berikut petikannya:

Masih banyak orang yang punya mindset bahwa notebook yang menggunakan AMD itu cepat panas, apa tanggapan kalian?

Ron: Ya, kami menyadari itu. Padahal itu sudah lama sekali. Kami sudah banyak berubah. Tapi begitulah, melawan persepsi lebih susah dari kenyataan. Apalagi dengan Carrizo, ada banyak kemajuan yang kami capai.

Kozak: Ya betul.

Jason: Di masa lalu memang ada masalah dengan panas, tetapi dengan Carrizo kami sudah melakukan banyak sekali pencapaian. Teknologinya cukup fenomenal dalam hal efisiensi daya dan performa. (AMD sebenarnya pernah membuat kampanye bertajuk “Touch The Bottom” untuk membuktikan bahwa notebook yang menggunakan prosesor mereka tidak panas seperti persepsi banyak orang).

Mengapa kalian tak mengajari retailer seperti yang dilakukan Intel melalui program “Sahabat Intel” di Indonesia yang terbukti cukup efektif?

Jason: Intel punya mesin pemasaran yang besar dan saya kira kami tak bisa bersaing dengan itu. Jadi kami memilih cara lain.

Ron: Mereka punya sumber daya besar. Kami memilih bekerja lebih cerdas. Tahun ini kami akan memulai “Aggressive Retailer Program”. Jadi, kami akan memanfaatkan Digital Social Marketing. Kami mengembangkan materi pemasaran yang sangat mobile friendly, akan ada aplikasi tentang informasi produk AMD. Kami bekerjasama dengan tim lokal di beberapa negara agar materi yang disampaikan benar-benar pas di negara tersebut.

Tahun lalu AMD mengumumkan tentang Project SkyBridge untuk masuk ke pasar mobile, tetapi kemudian berhenti di tengah jalan. Apa yang terjadi, apa kalian mengubah fokus?

Jason: Saya pikir kami tidak mengubah fokus, tetapi lebih kepada melakukan hal yang paling dibutuhkan konsumen kami saat ini. Jadi bukan mengubah fokus, tetapi sangat fokus pada hal yang paling penting.

Kembali ke Carrizo, kenapa kalian tak menerapkannya untuk Desktop PC?

Jason: Kami memfokuskan Carrizo untuk produk mobile. Karena Anda tahu, notebook adalah hub dari semua perangkat. Jadi kami sangat fokus di situ. Tetapi kami juga memikirkan (untuk membawanya) ke desktop di masa yang akan datang. Ada kemungkinan untuk membawa arsitektur ini ke PC.

Di Indonesia, saat orang ingin beli notebook, sering kali pertanyaan mereka bukan mengenai hal teknis. Tetapi apakah notebook ini bisa digunakan untuk bermain game tertentu. Bagaimana kalian menerjemahkan ini ke dalam bahasa marketing?

Ya, alih-alih memaparkan hal teknis, kami akan memberitahu bagaimana orang dapat menggunakan notebook AMD. Kami juga akan mengedukasi retailer, menyampaikan melalui media sosial dan lain-lain. Di Carrizo kami melakukan banyak hal, sehingga notebook bisa digunakan untuk gaming, produktivitas dan lain-lain. Tak semua notebook bisa melakukan hal itu, kecuali yang premium.***

sumber: teknologi.metrotvnews.com