Qlue Awali 2020 Dengan Raih Best IoT Startup di  ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019

Penghargaan ini akan memperkuat strategi Qlue dalam meningkatkan skalabilitasnya untuk masuk ke pasar internasional

Kuala Lumpur, 31 Januari 2020 – Perusahaan ekosistem smart city terlengkap di Indonesia, Qlue, mengawali 2020 dengan menerima penghargaan ASEAN Best IoT Startup di dalam ajang ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019 yang berlangsung di Sasana Kijang, Kuala Lumpur, Malaysia pada Kamis, 16 Januari 2020. Qlue berhasil menyisihkan lima nominator dari berbagai negara lainnya di ASEAN. Sebagai peraih Best IoT Startup, Qlue dinilai sebagai startup yang konsisten untuk berinovasi dan berhasil mendorong perubahan positif di Indonesia melalui solusi smart city yang komprehensif berbasis Internet of Things (IoT).

ASEAN Rice Bowl Startup Awards merupakan penghargaan yang diberikan kepada beberapa startup sebagai penghargaan atas inovasi, keunggulan, kinerja terbaik, dan semangat kewirausahaan mereka. Penghargaan ini juga mengapresiasi determinasi, risiko, dan kerja keras yang ada dalam pengembangan sebuah startup, serta pengaruh dari setiap individu dalam mencapai keberhasilan startup mereka. ASEAN Rice Bowl Startup Awards telah memasuki tahun kelima dan telah diakui sebagai penghargaan bergengsi bagi startup di kawasan ASEAN. Pada tahun ini, ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019 menerima 3.170 nominasi dari Asia Tenggara, meningkat 60 persen dari tahun sebelumnya. Dari ribuan nominasi yang masuk, sebanyak 107 startup terpilih menjadi finalis ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019.

Rama Raditya, Founder dan CEO Qlue, bersama trophy dan sertifikat “Winner of ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019”

“Kami menganugerahkan ASEAN Best IoT Startup 2019 kepada Qlue karena kami menilai Qlue telah berhasil mengimplementasikan teknologi IoT sebagai salah satu basis teknologi untuk mengembangkan ekosistem smart city. Qlue terus berinovasi dari aplikasi pelaporan masyarakat menjadi penyedia ekosistem smart city terlengkap di Indonesia dan ASEAN. Kami berharap, Qlue dapat terus mewakili Indonesia dan ASEAN di Global Startup Awards untuk berkompetisi dengan berbagai startup lainnya dari seluruh dunia,” kata Chairman ASEAN Rice Bowl Startup Awards and New Entrepreneurs Foundation, Hamdi Mokhtar.
 
Founder & CEO Qlue, Rama Raditya mengatakan penghargaan ASEAN Best IoT Startup 2019 dari ASEAN Rice Bowl Startup Awards di awal tahun ini merupakan hasil kerja keras dari setiap individu di Qlue dalam menciptakan berbagai inovasi dan solusi yang menjadi pendukung ekosistem smart city. Sejak awal didirikan, Qlue selalu berusaha memberikan solusi teknologi untuk mendukung ekosistem smart city berbasiskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), dan mobile workforce yang dapat memudahkan warga, pemerintah, dan bisnis untuk dapat bekerja lebih efektif.
 
“Pencapaian di awal tahun ini sangat istimewa bagi Qlue dalam menyambut tantangan baru di 2020. Penghargaan ini semakin mengukuhkan rencana kami di tahun 2020 yang menargetkan pertumbuhan bisnis lebih dari 50%. Penghargaan ini juga akan meningkatkan skalabilitas Qlue untuk masuk ke pasar internasional, karena kami akan mewakili Indonesia dan ASEAN di tingkat global. Di 2019 sendiri, Qlue sudah melakukan berbagai aktivitas di beberapa negara meliputi Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Taipei, dan beberapa negara di Eropa seperti Spanyol dan Italia,” kata Rama.

Rama Raditya, Founder dan CEO Qlue, bersama trophy dan sertifikat “Winner of ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2019”

Penghargaan Best IoT Startup yang diraih oleh Qlue ini tidak lepas dari berbagai inovasi Qlue yang diterima secara luas oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan IoT dan smartphone, Qlue membuat sensor pengumpul data di sebuah area melalui aplikasi QlueApp. Warga dapat memonitor status laporan di dalam aplikasi, mulai dari menunggu, proses, hingga selesai. Warga dapat menggunakan foto dan video untuk membuat laporan dan dapat memberikan penilaian terhadap kinerja petugas dalam menanggapi laporan. Dengan fitur geotracking laporan warga langsung masuk ke dalam QlueDashboard agar masalah dapat langsung didata, dipetakan dan ditindaklanjuti. QlueApp juga memungkinkan warga untuk melakukan chat secara personal, atau berdasarkan kelurahan dan kecamatan. Pengguna QlueApp juga bisa melihat berapa banyak laporan di sekitar mereka dan daerah lain melalui fitur search by map.
 
Qlue juga mengembangkan sensor dan analisis video yang secara otomatis dapat mendeteksi muka, mengklasifikasi dan menghitung jumlah mobil, plat nomor, jumlah orang, dan kemampuan lainnya yang disematkan di CCTV dan lampu pengatur lalu lintas. Solusi Qlue ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan, mengurai kemacetan dan peringatan secara otomatis bagi pelanggar parkir liar melalui teknologi AI dan IoT. Qlue juga akan memperkuat solusi IoT di bidang smart environment dengan meluncurkan solusi untuk mengurangi masalah polusi udara di daerah perkotaan dalam waktu dekat.
 
Sementara itu, saat ini pengguna QlueApp sudah mencapai lebih dari 750 ribu orang di lebih dari 20 daerah dan 23 Polda di Indonesia, dengan beberapa daerah baru antara lain Minahasa, Tarakan, Kupang, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Belitung. Solusi CCTV & video analytics Qlue juga telah digunakan oleh tiga Balai Besar Jalan Nasional untuk mendapatkan analisis secara otomatis mengenai jumlah kendaraan yang melewati ruas jalan nasional di Banten, Mataram, dan Papua. Analisis tersebut digunakan oleh Kementerian PUPR untuk menganggarkan perbaikan jalan secara akurat.
 
Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore, MM, MH, menyatakan Qlue adalah salah satu aplikasi pelaporan terbaik di Indonesia yang telah diterapkan sebagai bagian dari pelayanan Pemerintah Kota Kupang kepada masyarakat. Masyarakat Kota Kupang dapat menyampaikan keluhan secara cepat terhadap pelayanan publik kepada pemerintah kota melalui QlueApp, dan akan langsung direspon oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Kupang. Tiga masalah utama yang sering dilaporkan oleh warga Kota Kupang sepanjang Agustus hingga Desember 2019 adalah sampah (23%), lampu penerangan jalan yang rusak (13%), dan mobilitas dan akses (9%).
 
“Sejak mengimplementasikan Qlue di bulan Agustus 2019, Pemkot Kupang bisa merespon dan menindaklanjuti keluhan masyarakat secara cepat. Sebelum Qlue hadir, Kota Kupang masuk ke dalam tiga kota terkotor di Indonesia. Tapi saat ini kami telah berhasil lepas dari predikat tersebut berkat berbagai laporan mengenai sampah dari masyarakat secara real-time, sehingga kami dapat dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan sesuai dengan aspirasi masyarakat,” kata Jefri Riwu Kore.
 
Qlue juga akan segera hadir di Kabupaten Belitung pada kuartal pertama 2020 sebagai bagian dari implementasi Belitung Smart Island. Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie, S.Sn, M.Si, menilai Qlue adalah perusahaan penyedia ekosistem smart city dengan reputasi dan kredibilitas yang telah terbukti di Indonesia. Kehadiran Qlue di Kabupaten Belitung akan membantu masyarakat serta pemerintah dalam membuat lompatan yang lebih jauh untuk mencapai tujuan akhir, yakni peningkatan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan pemerataan pertumbuhan ekonomi dengan integrasi teknologi informasi menuju Belitung Smart Island.
 
“Qlue dengan kemampuan solusi smart city akan mendampingi Pemkab Belitung untuk mempercepat peningkatan kapasitas SDM, peningkatan tata kelola pemerintahan, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi. Dengan semangat “Let’s Go Belitung!”, kami ingin mengajak orang datang ke Belitung tidak hanya untuk datang berwisata, tapi juga berinvestasi dan bermitra dengan kami. Kerja sama dengan Qlue akan membawa dampak positif yang lebih besar untuk seluruh masyarakat Belitung,” kata Isyak Meirobie.
 
Sementara itu, di DKI Jakarta sendiri Qlue menerima lebih dari 110 ribu laporan sepanjang 2019 lalu, naik 8% dibandingkan tahun 2018. Jumlah laporan selesai juga meningkat dari 90% menjadi 93% di tahun lalu. Tiga laporan terbanyak di DKI Jakarta di 2019 meliputi iklan liar (21,07%), sampah (18,83%), dan parkir liar (10.31%). Khusus untuk banjir, Qlue menerima lebih dari 10 ribu laporan untuk banjir dan potensi banjir pada 2019 lalu. Saat banjir melanda DKI Jakarta di awal tahun ini, Qlue menerima 261 laporan banjir sepanjang 31 Desember 2019 – 5 Januari 2020. Rata-rata laporan potensi banjir di DKI Jakarta meningkat 11% setiap tahunnya, sejak 2017. Seluruh laporan warga di QlueApp juga terintegrasi dengan Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) dan Petabencana.id sehingga membantu pemerintah untuk memetakan dan mendapatkan data titik lokasi tempat-tempat yang membutuhkan bantuan dan evakuasi secara cepat.
 
“QlueApp mendorong partisipasi publik untuk pengembangan kota, yang memungkinkan pemerintah kota untuk membuat kebijakan berdasarkan data yang didapat melalui partisipasi masyarakat. Kami juga terus meningkatkan kemampuan berbagai produk smart city untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Solusi teknologi Qlue tidak hanya digunakan oleh sektor pemerintah namun juga perusahaan swasta yang ingin menerapkan solusi smart city di lingkungan kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja,” kata Rama Raditya.
 


 
Tentang Qlue
 
Didirikan pada 2016 lalu, saat ini Qlue telah menjadi startup teknologi yang menghadirkan solusi kota pintar paling komprehensif di Indonesia. Dengan misi mempercepat perubahan positif di seluruh dunia, Qlue membangun platform solusi smart city berbasiskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT) dan Mobile Workforce. Selama tiga tahun, Qlue menerima berbagai penghargaan, seperti pemenang Global Smart City oleh World Smart City Organization di London (2018), Best M-Government Service Award dari World Government Summit di Dubai (2019), dan Startup of the Year dari Jumpstart Magazine, Hong Kong (2019).