Menuju 2020 Go Digital: Membantu dunia bisnis Indonesia meraih kesuksesan

Indonesia berambisi menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di dunia pada tahun 2020 mendatang, sesuai dengan kampanye Go Digital Vision tahun 2020 yang diluncurkan pada tahun 2015 lalu. Ada tiga tujuan utama di dalam kampanye tersebut:
1. Mendukung delapan juta UKM agar “mampu bersaing secara digital” pada tahun 2020,
2. Membantu satu juta petani dan nelayan untuk go digital, dan
3. Menciptakan 200 startup teknologi lokal setiap tahun sampai dengan tahun 2020, dengan total nilai 150 triliun rupiah atau 10 miliar dolar AS.
Pemerintah sangat tertarik untuk go digital dan bersedia memompa sumber daya untuk merealisasikan visinya. Pertanyaannya, apakah go digital merupakan langkah yang tepat untuk Indonesia? Apa sajakah peluang-peluang yang ada?

Dampak dari go digital
Menurut Deloitte Access Economics, penggunaan media sosial, broadband internet dan e-commerce yang lebih besar dapat berakibat pada:
1. Pertumbuhan pendapatan hingga 80% lebih tinggi
2. Meningkatkan 1,5 kali kemungkinan perekrutan kerja
3. Kemungkinan berinovasi 17 kali lebih tinggi

Dengan menerapkan digitalisasi kepada usaha-usaha kecil di Indonesia yang total pendapatan tahunannya mencapai sebesar 1,4 miliar rupiah, sebuah UKM yang tidak memiliki profil online dapat meningkatkan pendapatannya sebesar 140 juta rupiah setahun jika mencoba memanfaatkan ranah online. Pada tingkat makroekonomi, keterlibatan digital yang lebih tinggi oleh UKM dapat mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2 poin persentase per tahun.

Indonesia berada di posisi strategis untuk menuai keuntungan
Kepentingan ekonomis di dalam go digital tidak dapat dilebih-lebihkan, dan kabar terbaiknya adalah bahwa Indonesia berada pada posisi yang baik untuk menuai berbagai keuntungan. Selain pernyataan dari hasil riset Deloitte bahwa penetrasi internet di Indonesia mencapai 34 persen, Indonesia juga menjadi negara dengan pertumbuhan pasar internet tercepat di dunia, menurut penelitian Google dan perusahaan investasi Termasek.
1) Memperluas populasi usia kerja: Populasi generasi muda dan berkembang di Indonesia dapat mencapai 280 juta pada tahun 2030, dari 175 juta saat ini (menurut data dari World Bank). Tidak seperti kebanyakan ekonomi lainnya di seluruh dunia, termasuk di Asia, dengan populasi yang cepat menua, Indonesia diharapkan dapat mengatasi tren tersebut dan melihat populasi pekerja berusia di atas membengkak sampai tahun 2025, memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi 2,4% per tahun sampai 2030.

2) Populasi internet yang tumbuh: Pada bulan Mei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia berhasil menjangkau 100 juta pengguna internet, menjadikannya populasi internet terbesar kelima di dunia, menyusul China, India, Amerika Serikat dan Brasil. Menurut penelitian oleh Google dan perusahaan investasi Temasek, Indonesia akan mencapai 215 juta pengguna internet pada tahun 2020, melaju melewati Brasil untuk menjadikannya populasi internet terbesar keempat di seluruh dunia.

3) Meningkatnya kelas menengah mendorong konsumsi yang kuat: Dua faktor di atas telah melahirkan kelas menengah yang cukup besar yang menuntut kualitas hidup yang lebih baik dan mendorong konsumsi domestik yang kuat. Konsumen membeli lebih banyak barang secara online dan akan mendorong Indonesia menjadi pasar e-commerce terbesar pada tahun 2025, dipatok seharga 46 miliar dolar AS, menurut penelitian yang sama oleh Google dan Temasek.

Teknologi akan menjadi kunci untuk memungkinkan pertumbuhan spektakuler ini.
Tak dapat dipungkiri, Indonesia masih perlu mengembangkan keterbatasan infrastrukturnya yang telah ditetapkan sebagai prioritas oleh pemerintah saat ini.

Indonesia telah menyetujui anggaran senilai 4.700 triliun rupiah (353 miliar dolar) untuk mendanai pembangunan infrastruktur sampai tahun 2019.
Untuk mempercepat kemajuannya, sektor publik dan swasta negara harus fokus berinvestasi pada teknologi digital untuk meningkatkan infrastruktur, meningkatkan penetrasi, dan meningkatkan produktivitas, sehingga membuat Indonesia menjadi tempat yang kondusif bagi pertumbuhan yang akan terjadi. Kami merasa bahwa kedua tren teknologi yang akan berkontribusi paling besar terhadap pergeseran ekonomi ke digital adalah cloud dan Artificial Intelligence (AI).

Cloud
Di antara seluruh negara ASEAN, Indonesia diharapkan dapat menyaksikan pertumbuhan tercepat dalam adopsi cloud. Pertumbuhan mobile consumption dan meningkatnya permintaan untuk layanan pemulihan bencana (disaster recovery service) telah menjadi kunci mendorong permintaan layanan cloud di Indonesia. Ketika membahas tentang cloud, ada kesalahpahaman di antara beberapa pemilik bisnis bahwa teknologi cloud hanyadiperuntukkankepada bisnis besar dalam ranah tertentu.

Namun, dengan menggabungkan cloud sebagai bagian dari strategi TI yang lebih besar, semua jenis bisnis, baik besar atau kecil, akan mampu mengikuti perkembangan lingkungan bisnis yang saat ini berevolusi dengan cepat dan memilih pendekatan yang lebih ramah sehingga menjamin biaya tetap rendah dan mempertahankan fleksibilitas saat mempertimbangkan perluasan bisnis.

Cloud memungkinkan bisnis yang lebih kecil untuk memperoleh manfaat dari Anything as a Service (XaaS). Bisnis yang lebih kecil mendapatkan akses ke infrastruktur, platform, perangkat lunak dan bahkan keamanan sebagai layanan, mengurangi kebutuhan akan hosting (dan persyaratan mendasar untuk infrastruktur dan sistem), dan menyesuaikan layanan ini sesuai permintaan.

Bisnis yang lebih kecil mendapatkan akses yang lebih baik ke teknologi baru dan skalabilitas mudah dengan cloud. Hal ini juga mengalihkan biaya dari belanja modal dari capex ke opex dan membebaskan uang tunai untuk bisnis.
Dengan teknologi saat ini, semua bisnis dapat terhubung dengan siapa pun dalam siklus pembayaran; baik pemasok (supplier), mitra bisnis, dan klien. Untuk melakukannya, mereka memerlukan platform terbuka yang terintegrasi dengan solusi yang ada dan mendorong kolaborasi.

Seiring dengan bertumbuhnya bisnis, akan sangat penting untuk memilih solusi teknologi yang tepat untuk memastikan kelangsungan usaha. CIO (Chief Information Officer) perusahaan, yang terutama bertanggung jawab untuk membuat keputusan mengenai sistem dan platform mana yang harus diterapkan, harus mengidentifikasi solusi yang tidak hanya dapat tumbuh dan berkembang bersama dengan bisnis mereka, namun juga menyesuaikan diri dengan proses bisnis baru dengan mudah.

Sage X3 adalah sebuah platform yang dapat menangani kebutuhan bisnis Anda yang selalu berubah. Perangkat lunak manajemen bisnis serbaguna, Sage X3 terbuka terhadap teknologi baru dan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan strategi bisnis TI saat kebutuhan bisnis berkembang dengan lebih cepat.

Artificial Intelligence (AI)
Karena mampu meningkatkan produktivitas secara dramatis, teknologi AI mungkin memiliki dampak besar terhadap ekonomi dalam sebuah kawasan – dan juga para pekerjanya. Penelitian MGI yang telah diterbitkan memperkirakan bahwa teknologi saat ini berpotensi untuk mengotomatisasi sekitar setengah dari aktivitas kerja yang dilakukan di empat negara ekonomi ASEAN; Indonesia (52 persen dari semua kegiatan), Malaysia (51 persen), Filipina (48 persen) dan Thailand (55 persen).

Karena AI masih dalam tahap awal pengembangan, para pelaku bisnis mungkin masih memiliki kesalahpahaman bahwa AI hanya dapat digunakan oleh perusahaan besar, atau oleh mereka yang memiliki pengetahuan teknologi terkini. Hal tersebut tidaklah benar karena ada banyak aplikasi AI yang diperuntukkan bagi semua jenis dan ukuran bisnis. Misalnya, Kata.ai, di Indonesia, tengah mengembangkan algoritma pemrosesan bahasa alami pertama untuk Bahasa, yang merupakan bahasa utama bagi lebih dari 250 juta orang di Indonesia dan Malaysia.

Manfaat paling cepat dari AI adalah bahwa AI menawarkan perusahaan alat-alat baru untuk bekerja secara lebih cerdas dan membantu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk proses manual. Dengan kemajuan di AI, proses memasukkan data akan lebih cepat dan akan ada lebih banyak waktu bagi mendapatkan kecerdasan dan wawasan berharga dari layanan yang digunakan. Kami melihat hal tersebut dalam kolaborasi antara Kata.ai dan Telkomsel, anak perusahaan jaringan telepon genggam dari Telkom, perusahaan telekomunikasi terbesar di negara ini. Kata.ai menciptakan chatbot berbasis AI yang menangani pekerjaan administrasi yang muncul dari peningkatan jumlah interaksi pelanggan, sehingga karyawan Telkomsel dapat berfokus pada isu-isu yang memerlukan sentuhan manusia.

AI masih dalam tahap pengembangan, namun kita sudah melihat banyak kemungkinan, karena kita menyaksikan komputer telah mengungguli manusia dalam beberapa tugas tertentu. Untuk usaha kecil, AI bisa membuka kemungkinan baru. AI dapat mengubah model bisnis lama dan mengungkapkan peluang baru dan menawarkan hambatan masuk yang lebih rendah. AI juga dapat menawarkan efisiensi yang lebih baik, proses yang lebih efisien, biaya operasi yang lebih rendah, pengalaman pelanggan yang lebih baik, dan sebagainya. Usaha kecil harus bisa mengidentifikasi peluang AI lebih awal dan tidak menghindar dari teknologi baru.

Mengatakan ya pada teknologi – bagaimana Sage membantu?
UKM biasanya dipandang sebagai pengadopsi teknologi baru yang lamban. Sage bertujuan melengkapi UKM untuk memanfaatkan teknologi dan mendapatkan keuntungan sebagai penggerak pertama. Dalam rangka memberi nilai bagi pertumbuhan UKM, Sage membantu UKM menavigasi jalan mereka seputar teknologi baru seperti AI, dengan menjawab pertanyaan penting seperti “Apa arti teknologi ini bagi saya?”, dan “Dari mana dan bagaimana saya memulainya?”.

Sage mendukung para pelaku bisnis dalam mewujudkan mimpi mereka untuk meninggalkan jejak berharga dalam hidup dengan menghapus kekhawatiran mereka tentang kebutuhan teknologi. Mulai dari implementasi dan legislasi hingga kepatuhan (compliance) dan transformasi digital, Sage dapat mendukung pelaku bisnis, dan dengan cara ini, mengatasi kesenjangan teknologi atau kesenjangan kemampuan apa pun yang mungkin ada saat menghadapi pertanyaan tentang teknologi. Para pelaku bisnis adalah tulang punggung ekonomi, sehingga dengan mendukung tujuan ekspansi mereka, kami juga berharap dapat sekaligus mendorong perekonomian negara.

Solusi Sage diciptakan dari bawah ke atas, dan inti dari solusi kami merupakan pemahaman mendalam tentang karakteristik dan kebutuhan khusus UKM. Hal ini telah memberikan kesempatan bagi kami untuk membuat kerangka kerja unik yang cocok dengan UKM secara sempurna; dan bukan hanya mengarah ke UKM.

Penutup
Teknologi tengah mentransformasi bisnis di berbagai ranah industri dengan cepat dan UKM di Indonesia perlu maju agar tetap relevan dan tetap memegang kendali atas perubahan. Beberapa bisnis sering kali mengalami kegagalan saat mereka tidak mengikuti tren. Sejarah pun mencatat beberapa contoh bisnis yang dulunya berada di atas, namun gagal berinovasi dan kini sudah tidak ada lagi (Kodak, Blockbuster, dan Borders).

Untuk mendorong kesuksesan bisnis mereka sendiri serta kesuksesan Indonesia, para pelaku bisnis harus menciptakan sebuah rencana untuk memanfaatkan teknologi dan melakukannya sesegera mungkin. Jika para pelaku bisnis berpikir bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk memanfaatkan AI atau cloud dalam 10 tahun ke depan, mereka akan kehilangan pertarungan dengan mereka yang telah melihat lebih jauh ke depan.

Demikian pula, UKM harus mencari mitra teknologi dengan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap perusahaan (tailor-made) yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan mereka – bukan hanya versi kecil dari solusi kelas enterprise yang lebih besar. Mitra teknologi yang memahami UKM lebih baik ditempatkan untuk menciptakan solusi yang benar-benar dapat membantu mereka terorganisir, mendapatkan lebih banyak visibilitas ke dalam bisnis mereka, dan mengelola pertumbuhan mereka.

Tentang Sage
Sage membantu UKM sukses di era Industry 4.0 melalui portofolio manajemen perusahaan yang kuat dan dinamis seperti Sage X3, Sage 300, Sage CRM dan solusi Human Capital Management terbaru mereka, yakni Sage 300 People yang tidak hanya memungkinkan praktisi HR untuk mengelola bakat dan pembelajaran bagi staf, tetapi juga memungkinkan manajemen untuk mengetahui ketersediaan tenaga kerja terampil untuk ekspansi di masa depan. Dengan hadirnya generasi pekerja milenial yang jumlahnya terus bertumbuh, menyediakan layanan mandiri untuk mengelola pembelajaran mereka dan pengembangan SDM akan menjadi kunci kuat untuk menginspirasi dan mempertahankan bakat mereka. Perangkat lunak Sage telah memungkinkan UKM untuk mencapai keseimbangan dengan teknologi dan perkembangan terbaru, termasuk Industry 4.0, dan berfokus untuk menghasilkan yang terbaik bagi UKM. Yang paling penting, teknologi mempermudah UKM dan perusahaan lain secara umum untuk tetap menjalankan bisnis dan menetapkan dasar untuk ekspansi bisnis, sebuah ambisi yang tengah diraih oleh UKM.

Kontak Pers:
Audrey Pereira-Loong, Sage Software Asia, SG, Audrey.Pereira-Loong@sage.com
Subeer Dutt, Ying Communications, SG, sage@yingcomms.com
Cynthia Iskandar, United Communications, ID, cynthia@united-comm.com
Dio Handrian, United Communications, ID, dio@united-comm.com