Infinix Hot 2 Resmi Diluncurkan, Bidik Market Share 5%

Post on 30 September 2015 by :

Vendor smartphone asal Tiongkok, Infinix Mobility mengaku optimistis dapat menembus market share 3% – 5% untuk pasar smartphone di Indonesia meskipun di saat kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang saat ini sudah menembus di level Rp 14.700. Menurut manajemen Infinix, target tersebut dapat terealisasi berkat kehadiran produk baru, yakni Infinix Hot 2 XL510.

1358170infinix1780x390

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil dibuka menguat tipis sebesar 28 poin, atau 0,19% pada perdagangan Senin (28/9/2015). Mata uang garuda tercatat berada di level Rp14.665 per dolar AS.

Benjamin Jiang, CEO Infinix Mobility, mengatakan perusahaan bekerja sama dengan situs belanja Lazada.co.id akan meluncurkan produk baru yang dibanderol Rp 1.299.000 tersebut mulai 30 September 2015. Menurut Benjamin, Infinix Hot 2 merupakan smartphone Infinix pertama yang didukung oleh Android One dari Google.

“Kami berharap pengguna entry level akan memiliki pengalaman yang kaya tanpa harus berinvestasi lebih banyak. Kami optimistis hingga akhir tahun dapat merebut market share 3% hingga 5% untuk pasar smartphone di Indonesia,” kata dia di Jakarta, Senin.

Infinix Hot 2 akan tampil dengan lima varian warna, yaitu hitam, putih, emas, biru, dan merah. Melalui Google Play, ponsel Android One memiliki akses ke lebih dari 1 juta aplikasi yang memungkinkan untuk mengirim pesan ke teman, melakukan panggilan video, bersosialisasi, memeriksa berita dan cuaca, dan bermain game. Aplikasi Google, seperti Gmail, Google Maps, Google Search, dan Google Translate juga akan dimuat dalam ponsel.

Volume Penjualan Smartphone

Menurut laporan dari riset GfK yang mendata trafik penjualan mulai Januari sampai Juni 2015. Dilansir melalui Cellular News, adanya kenaikan tingkat kebutuhan smartphone, yang naik 3,2 juta smartphone dalam kurun yang sama tahun lalu.

Tercatat, konsumen di tujuh negara di Asia Tenggara menghabiskan lebih banyak uang untuk smartphone. Tujuh negara itu adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Vietnam, Filipina dan Kamboja.

Seluruh negara mengumpulkan revenue penjualan smartphone sebesar US$ 8 miliar dalam kurun waktu enam bulan. Sebanyak lima negara mengalami pertumbuhan yang positif year-on-year dalam penjualansmartphone, kecuali Singapura dan Malaysia, di kisaran 7% sampai 27%. Tiga pasar smartphone terbesar di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Ketiganya berturut-turut memiliki kenaikan volume penjualan mulai dari 27% di Indonesia sebanyak 14,9 juta unit, kenaikan13 persen atau sekitar 6,6 juta unit di pasar Thailand, dan sekitar 6 juta unit di pasar Vietnam atau naik sekitar 10 persen.

GfK juga menemukan adanya negara yang baru memulai tahunnya di smartphone. Pada Januari sampai Juni, telah terjual 3 juta unit handset di Myanmar, 89 persen di antaranya adalah smartphone.

Menurut pihak GfK, banyaknya smartphone dengan harga rendah saat ini membuat semua orang bisa mendapatkan smartphone. Bahkan 15 persen dari total smartphone yang terjual di paruh pertama 2015 rata-rata berharga kurang dari US$ 100.

Vendor smartphone Tiongkok dianggap GfK telah berhasil memiliki peran yang besar dalam pasar yang dulu pernah didominasi merek global. Pada Juni 2015, 25% smartphone yang terjual di Asia Tenggara merupakan merek Tiongkok. Padahal di 2013 lalu, kontribusinya hanya 4%.

Sumber : ift.co.id

Flickr

Testimonials